Mengapa Harus ‘Sepasang’?

Reaksi paling sering saya dapatkan setelah orang-orang tahu kalau calon anak kedua saya adalah perempuan. Anak pertama saya perempuan juga, dan hampir semua orang bereaksi sama. Kecuali Ibu saya, yang punya anak perempuan dua berturut-turut, lalu laki-laki, dan kemudian perempuan lagi. Mengapa harus sepasang? Itu pertanyaan saya dalam hati. Bukannya saya tidak akan mensyukuri kalau ternyata calon anak saya lahirnya laki-laki, tapi mengapa reaksinya seperti itu. Bukan hanya dari kolega atau teman yang berasal dari Indonesia, orang Belanda pun juga ada yang kasih reaksi serupa.

So, saya tanyakan kembali ke forum lepas melalui blog saya, mengapa? Kenapa harus sepasang? Sepenglihatan saya, anak yang berbeda jenis kelamin tidak terlalu dekat satu sama lain saat dewasa. Bukan berarti tidak kompak, namun tidak dekat dalam hal-hal kecil namun berharga seperti ‘curhat’ atau sekedar saling menyapa. Kekompakannya tidak terlihat dengan segera. Mungkin nantinya ketika sudah sama-sama berkeluarga, si Kakak yang perempuan bisa dekat dengan adik ipar perempuannya dan begitu juga dengan Kakak laki-laki dan ipar laki-lakinya. Apalagi di masa puber, lebih sering mereka bergaul dengan temannya masing-masing.

Pengalaman saya dan adik perempuan saya, kami sering bergaul bersama. Kami punya kehidupan dan teman-teman yang berbeda, tapi sering ‘hang out’ bersama. Teman-teman saya kenal dengan adik-adik saya, dan begitu juga sebaliknya. Sampai hari ini pun, kami tinggal berjauhan, tiap hari kami masih saling komunikasi lewat Whatsapp, Skype, BBM, dan Google Hangouts. Jealousy dan kompetisi tentu saja ada, tapi itu semua bisa teratasi dengan baik. Karena besar bersama dan sering bermain bersama sewaktu kecil, justru memudahkan kami untuk saling pengertian, saling mendukung, dan saling membantu.

Jadi, perlukah sepasang? Apakah itu hanya untuk kepuasan orang tuanya yang ‘berhasil’ punya anak perempuan dan laki-laki? Apa benar begitu? Pengalaman saya selama ini menyimpulkan bahwa menjadi orang tua itu masalah hati dan keikhlasan, tidak tergantung pada jenis kelamin anak. Apakah sepasang demi masa tua nanti ada anak yang menjaga kita? Bukankah itu egois namanya, bagaimana kalau anak-anak kita semuanya diberi rejeki kehidupan di luar negeri, seperti saya, dan mereka jauh lebih bahagia dan sukses disana? Bukannya itu tujuan dan doa semua orang tua? If you love someone, set them free.

Lalu, again, mengapa harus sepasang?

5 thoughts on “Mengapa Harus ‘Sepasang’?

  1. Mungkin ga ‘harus’ ya, tp kalo sepasang kesannya ‘lengkap’. Tapi tergantung masing2 pasangan juga sih, ada juga yg prefer punya anak perempuan aja atau laki aja.

  2. Gw pengen punya anak cewe biar gw punya temen … suami gw pengen punya anak cowok biar dia punya temen … jadi pengen sepasang lah😛

  3. Ngak harus sepasang .. Syukuri aja yg diperoleh dari Tuhan. Banyak yg susah punya anak. Dikasih apa aja asal sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s