Memory: hari-hari pertama di Belanda…

IMG_1682.JPG
Baca status teman di fb jadi teringat masa lalu. Masa pertama kali pindah ke Belanda. Ga punya pekerjaan, ga punya anak, ga punya teman. Apalagi suami introvert yg minim pergaulan. Gaulnya sama bapak2 pengajian yg type nya sama. Ga ada inisiatif mau ngenalin istrinya ke istri temannya. But I have made my choice to move with him, I was determined that I would not give up. I am better than this, said myself every day.

Pernah minta dibelikan sepeda, eh bolehnya sepeda bekas karena suami juga pakainya sepeda bekas dan mampunya memang beli bekas saja. Ya sudah pergilah kami ke toko sepeda bekas. Pilih2 eh yg ditaksir harganya €100 keatas. Suami budgetin dibawah itu sekalian sama rantainya. Lelah karena masih blm terbiasa dgn dingin, my heart was broken. Rasanya gimana gtu. Such a loser, beli sepeda aja mesti minta dan ga dibeliin pula.

Waktu itu, baru datang dan belum pernah tinggal di luar negeri sebelumnya. Pernah beberapa kali ke luar negeri namun hanya kunjungan wisata saja, tidak sampai mengikuti kehidupan sehari-hari. Suami juga saat itu masih bekerja di kantor lamanya di sebuah universitas, dengan gaji pas-pasan juga. Sebelumnya dia datang ke Belanda sebagai mahasiswa beasiswa, juga dengan budget dan tunjangan pas-pasan. Tidak kenal siapa-siapa, juga tidak kenal lingkungan sekitar, belum terbiasa dengan transportasi publik, kendala bahasa, dan keuangan yang superketat, that is my first months in NL condition.

Belum lagi faktor cuaca yg saat itu awal musim gugur, hujan, angin dan dingin yang ga keruan. Apalagi fresh from the kampung di jakarta, yg namanya 10 derajat celcius itu rasanya seperti hidup dalam kulkas (which I think it is). Mau jalan2 mesti tunggu suami pulang dr kantor dan stlh dia pulang, udah pada tutup toko2nya.

Dulu, pertama pindah ke Belanda tinggalnya di kota kecil bernama Diemen, yang langsung berbatasan sama Amsterdam. Kota Diemen itu kotanya pensiunan yang pertokoan tutup jam 5 sore dan tidak ada yg buka di hari Minggu. Sebenarnya, ke selatan ada daerah Amsterdam Zuid-Oost, yang ada pusat perbelanjaan besar serta stadium Amsterdam ArenA nya Ajax FC. Tapi, tahunya kan nanti-nanti, bukan pada saat datang. Mungkin sudah diberi tahu, tapi otak saya masih ribet saat itu.

But i did not want to give up. I am better than this, said myself again and again.

Kehidupan saya juga berubah total. Tadinya hidup punya penghasilan tetap, ada bonusnya, ada teman2, ada kolega2 yg jadi teman2. Janjian karaoke dan nge mall sehabis pulang kerja, atau cari bebek kaleyo dan ayam penyet di sunter. Garuda di wahid hasyim (kok jadi makanan ini?) Kemana-mana tinggal panggil taxi atau ojek. Rumah (ortu) saya di daerah Blok S, jadi kalau lapar dan mau beli nasi goreng kambing Jl Bakti, misalnya, ya tinggal jalan atau suruh pembantu untuk membelikan. Di Belanda mana ada kakilima apalagi kakilima buka sampai tengah malam.

Dulu, beli ini itu ga usah minta, langsung aja gesek. Ehh sampai sini ga punya uang, ada sih tp ternyata rupiah ke euro itu tidak terlalu significant. Dikasih uang saku dari suami €50 per bulan buat diri sendiri. Ga cukup buat sushi-an atau beli sepatu. Mau beli sepatu pun memangnya mau dipakai kemana?

Lalu, suatu hari datang kiriman katalog bayi teruntuk tennant sblmnya. Lihat2 sambil berangan2 enaknya kalau punya anak. Nanti bajunya ini, bed nya yang itu, stroller ini, mainannya itu… Lalu teringat kalau belum punya anak dan ga ada uang. Setelah lihat harga2nya, merasa miris sekali hati ini.

Dalam hati pun berdoa, ya Allah berikanlah aku anak, atau pekerjaan. Aku ingin nanti ketika anakku lahir, bisa membelikan salah satu barang2 ini. Keinginan mendapat pekerjaan itu lebih2 lagi karena bbrp minggu sebelumnya ditolak sama cirque du soleil, untuk posisi tukang cuci piring! Karena belum punya kartu residence permit… Makin2 lah down dan kecewa. Almost fell into depression.

Tidak lama setelah berdoa sambil memegang katalog bayi, datang panggilan interview. Interview pertama di utrecht, lalu kedua di amsterdam. Lalu ketahuan hamil, karena dapat flek2 warna pink yg tadinya dikira haid. Karena tdk kunjung deras, malah dikira udah menopause karena stress. Tapi googling katanya malah itu bisa jadi tanda hamil… Dan ternyata benar!

Sehabis tahu hamil, ga dipanggil2 lagi interview. Lalu sebulan kemudian mikir ya udah lah ya kan mintanya anak atau kerja. Tiba2 homesick karena morningsick plus adik mau nikah dan ngidam macam2. Beli tiket ke indo, rencana 3 bulan aja di indo… Eh ga lama abis pesan malah ditelpon sama kantor “kok belum masuk2?” Gantian gw bingung “lah emangnya saya diterima?” “Emgnya hrd blm hubungi kamu?” “Hah?” Ga lama kemudian hrd kirim email dan telpon juga mau buat janji sign contract, “tapi saya mau ke indonesia bulan des baliknya awal jan” kata hrd: “iya gpp nanti kontraknya diganti mulai jan 2011 dan kamu boleh pk jatah cuti buat hari-hari yg blm masuk kerja”. “Tapi saya lg hamil 14 minggu” “no problem” and the story goes…

I have never forget those days in my life. Selama ini setiap ada kesusahan atau merasakan kesusahan dalam hati, saya selalu ingat hari-hari tersebut. Terutama moment dimana saya berdoa sambil memegang katalog bayi. Masih teringat kala itu saya mau setrika baju dan tertarik melihat-lihat isi katalog. Masih terasa mirisnya hati pada saat itu. Not because I did not want to forget, bukan karena saya mau mengingat-ingat terus. Tapi karena it was so deep and touching, I remember it the whole time! I did not remember labour pains waktu melahirkan kedua anak saya, yang saya ingat hanya wajah-wajah mereka saat mereka saya gendong untuk pertama kalinya. Okay, well… Saya tidak ingat exactly wajah mereka sih, thanks to facebook for that, tapi saya ingat rasa dan apa yg otak saya pikirkan saat itu. Nah, moment berdoa itu pun sama, yang saya ingat adalah hati saya saat itu.

My overcoming that rock bottom moment in my life is all from the power of believe. The power of prayers. He is up there listening to our prayers. I know and i have my story as a proof.

As for sepeda. This is funny actually. Cari-cari sepeda bekas tidak ada hasilnya, karena sepeda bekas mahal dan waktu itu saya tidak tahu dimana lagi mesti cari sepeda. That was the moments before I am actively socializing online dan belum punya teman, juga malas cari lagi, jalan lagi, naik bus lagi, tidak tahu arah. Maybe it is also because of that I am secretly control freak so I cannot not knowing where I am going…

Anyways, sepeda tidak dapat. Tahun 2011 saya mulai bekerja dan di bulan Oktober, saya baca-baca soal National Fietsplan, dan ternyata saya berhak atas pembelian sepeda plus aksesorisnya seharga total € 750. Bulan desember 2011 saya akhirnya punya sepeda sendiri, baru dan sekaligus rantai dan juga tas. Semua full dibayarkan sama kantor.

So, that is my story. I just want to say that setelah kesusahan ada kemudahan, itu benar adanya. Just hang in there.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s